Terdepan dalam Pendidikan
Penerimaan Siswa Didik Baru
Info detail
Sambutan Kepala Sekolah
Bakhtar Yamin, MM.Pd
Kepala Sekolah
Perkembangan teknologi informasi sangat pesat. Perkembangan tersebut didukung oleh semakin banyaknya pengguna internet. Indonesia merupakan negera nomer 6 dengan pengguna internet terbanyak di dunia.
Maka sekolah tentu terus mengikuti perkembangan tersebut. Sebagai sarana informasi dan komunikasi sekolah, maka kami meluncurkan situs resmi sekolah dengan nama : sman1tambusai.sch.id
Kami sampaikan terima kasih kepada tim dari sinarweb.com sebagai penyedia domain hosting murah serta membuat website ini dengan baik. Harapan kami, website ini akan terus berkembang penggunaannya sebagai sarana informasi yang menunjang dunia pendidikan.
Artikel Berita
Jurnal Best Practice Mahasiswa PPG_Febrilla, M.Pd_Univ. PGRI Madiun
Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL)untuk Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar Peserta Didik pada Materi Pengaruh Kalor Terhadap Perubahan Wujud Zat di Kelas XI.C1 SMA Negeri 1 Tambusai
SMA Negeri 1 Tambusai
Febrilla*
PPG Dalam Jabatan Fisika, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas PGRI Madiun, Indonesia
Email : febrifebrilla@gmail.com
Pendahuluan
Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membentuk generasi yang berkualitas dan mampu menghadapi tantangan global. Oleh karena itu, metode pembelajaran yang efektif dan inovatif menjadi kunci penting untuk memastikan peserta didik tidak hanya memahami konsep-konsep akademis, tetapi juga mampu mengaplikasikannya dalam kehidupan nyata. Berdasarkan pengalaman penulis sebagai guru Fisika kelas XI. C1 di SMA Negeri 1 Tambusai salah satu yang menjadi latar belakang masalah peserta didik adalah kurangnya motivasi belajar terhadap mata pelajaran fisika, karena peserta didik masih menganggap pelajaran fisika adalah pelajaran yang sulit. Peserta didik belum mampu mengaitkan pembelajaran di kelas dengan permasalahan sehari-hari. Kondisi tersebut juga bisa disebabkan oleh guru yang cenderung menerapkan cara mengajar yang monoton dengan menggunakan metode ceramah yang kurang menarik bagi peserta didik. Dari hasil pengamatan pada saat proses belajar mengajar sebanyak 70% peserta didik pasif dalam aktifitas pembelajaran. Sedangkan berdasarkan hasil evaluasi pembelajaran diketahui bahwa dari 33 peserta didik, hanya 10 peserta didik yang mendapatkan nilai di atas KKTP, sedangkan 23 peserta didik lainnya tidak.
Tantangan yang dihadapi untuk mencapai tujuan meningkatkan motivasi belajar peserta didik terhadap mata pelajaran fisika diantaranya adalah : 1) Pemilihan model pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik peserta didik dan materi ; 2) Penggunaan media pembelajaran yang mampu menarik minat dan motivasi peserta didik seperti menggunakan media video animasi dan power point; 3) Guru harus bisa meningkatkan minat dan motivasi peserta didik melalui proses pembelajaran yang menyenangkan.
Pembahasan
Untuk mengatasi tantangan yang dihadapi penulis merancang pembelajaran yang berpusat pada peserta didik untuk meningkatkan motivasi belajar yang rendah melalui penerapan model pembelajaran problem based learning (PBL) serta Pemanfaatan media video animasi dan power point dapat menarik minat dan motivasi peserta didik untuk memahami materi pengaruh kalor terhadap perubahan wujud zat yang cukup abstrak. Sebelum melakukan aksi penulis meningkatkan keaktifan peserta didik dengan merancang pembelajaran yang berpusat pada peserta didik dengan mengembangkan RPP dan LKPD yang didalamnya terdapat kegiatan diskusi kelompok, menyelesaikan soal LKPD dan mempresentasikan hasilnya.
Dampak dari aksi yang telah dilakukan sangat efektif, terlihat dari : 1) Model pembelajaran problem based learning (PBL) dengan pendekatan saintifik pada materi pengaruh kalor terhadap perubahan wujud zat kelas XI.C1 SMA Negeri 1 Tambusai efektif meningkatkan motivasi belajar peserta didik pada mata pelajaran fisika, terlihat dari data angket motivasi yang sudah diisi oleh peserta didik pada saat sebelum dan sesudah pembelajaran mengalami peningkatan dari tidak setuju menjadi setuju sekali; 2) LKPD sesuai dengan sintaks PBL menjadikan proses pembelajaran berpusat pada peserta didik, dapat meningkatkan kemampuan literasi sains peserta didik, terlihat dari data hasil pengamatan unjuk kerja dan hasil penilaian LKPD dari 45,70% menjadi 75,76%; 3) Proses pembelajaran yang dilakukan dapat meningkatkan ketuntasan belajar peserta didik, terlihat dari data hasil penilaian pengetahuan. Presentase ketuntasan belajar (nilai di atas KKTP) adalah 81,82 %; 4) Peserta didik terlibat aktif dalam pembelajaran, terlihat dari kemampuan peserta didik untuk berkolaborasi, berdiskusi, dan merumuskan solusi bersama dalam kelompok-kelompok kecil; 5) Respon positif peserta didik terhadap pembelajaran, menunjukan keberhasilan penerapan problem based learning.
Kesimpulan
Berdasarkan proses dan aktivitas pembelajaran yang telah dilaksanakan dapat disimpulkan bahwa penerapan model problem based learning dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar peserta didik pada materi pengaruh kalor terhadap perubahan wujud zat di kelas XI.C1 SMA Negeri 1 Tambusai. Keberhasilan model pembelajaran problem based learning tidak hanya terbatas pada pencapaian tujuan pembelajaran spesifik, tetapi juga menciptakan pengalaman belajar yang bermakna, mendalam, dan terlibat bagi peserta didik. Lingkungan pembelajaran yang demikian tidak hanya membantu peserta didik menguasai konsep fisika, tetapi juga membentuk keterampilan dan sikap yang mereka butuhkan untuk menjadi pembelajar seumur hidup yang sukses.
Daftar Pustaka
Lukman, M. Rasyid Ridha, & Ismail, I. (2023). Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Melalui Model Pembelajaran Problem Based Laearning. Jurnal Pemikiran Dan Pengembangan Pembelajaran, 5(2), 735-740.
Yogi Anggraena,dkk (2022). Panduan Pembelajaran dan Asesmen Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Menengah. Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia.
Ati, T. P., & Setiawan, Y. (2020). Efektivitas Problem Based Learning-Problem Solving Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis dalam Pembelajaran Matematika Siswa Kelas V. Jurnal Cendekia: Jurnal Pendidikan Matematika, 4(1), 294-303.
Website Universitas PGRI Madiun (url : https://unipma.ac.id)
Website Pendidikan Profesi Guru Universitas PGRI Madiun (url : https://ppg.unipma.ac.id)
Website Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas PGRI Madiun (url : https://fkip.unipma.ac.id)
Website Pendaftaran Mahasiswa Baru Universitas PGRI Madiun (url : https://pmb.unipma.ac.id)
Sistem Informasi Manajemen Universitas PGRI Madiun (url : https://sim.unipma.ac.id)
Laman Akreditasi Universitas PGRI Madiun (url : https://akreditasi.unipma.ac.id)
Bupati Sukiman Apresiasi Siswa Berprestasi, Elisa Fazira Siswa SMAN 1 Tambusai

PASIRPENGARAIAN – Bupati Rokan Hulu (Rohul), H. Sukiman beri apresiasi atas prestasi siswa SMAN 1 Tambusai, Elisa Fazira yang berhasil meraih juara pelajar pelopor keselamatan lalu lintas tingkat Provinsi Riau.
Dalam hal ini, Elisa dapat berkunjung dan bertemu langsung dengan orang nomor satu di Kabupaten Rokan Hulu tersebut guna membahas terkait persiapan gadis belia itu untuk mengikuti pelajar pelopor keselamatan lalu lintas tingkat Nasional.
“Kita sangat mengapresiasi atas prestasi yabg telah diraih oleh anak kita Elisa ini, yang telah membuat harum nama Kabupaten Rokan Hulu ditingkat Provinsi Riau,” ungkap Sukiman.
Untuk persiapan perlombaan sendiri, Bupati Sukiman juga telah meminta kepada Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Rokan Hulu untuk membantu segala kesiapan dan apa saja yang dibutuhkan Elisa untuk mengikuti lomba pelajar pelopor keselamatan Lalu Lintas tingkat Nasional.
“Dengan dukungan yang penuh nantinya, kita berharap anak kita Elisa ini dapat mengukir prestasi terbaik di tingkat Nasional,” harap Sukiman.
Melihat ide dan gagasan yang disampaikan Elisa dalam mematuhi rambu-rambu lalu lintas, H Sukiman mengaku akan mengundang Elida dalam kegiatan upacara peringatan HUT RI, 17 Agustus 2023 mendatang.
“Ini Idenya bagus sekali, nanti upacara 17 Agustus kita undang Elisa untuk kita beri penghargaan, kita berharap Elisa dapat menjadi inspirasi bagi seluruh Pelajar yang ada di Rokan Hulu,” ungkap Bupati.
Sementara itu, Elisa Fazira yang saat itu didampingi oleh pembina dan kepala Dinas Perhubungan Rokan Hulu mengaku sangat senang dan terharu dapat bertemu dan berdiskusi langsung dengan Bupati Rokan Hulu, H Sukiman.
“Saya tidak menyangka sampai di titik ini, bisa bertemu pak Bupati secara langsung untuk berbicara. Pak bupati orangnya sangat ramah dan luar biasa. Semoga saya bisa membawa kepercayaannya untuk mendapat hasil yang maksimal nantinya pada saat kompetisi,” ungkap Elisa Fazira.
Diakui Elisa, saat ini dia bersama Asep Odang Kurnia selaku Pembina tengah mempersiapkan diri untuk mengikuti lomba pelajar pelopor tingkat Nasional.
“Saatnya kembali fokus untuk mempersiapkan diri menghadapi lomba nanti, kita optimis dengan dukungan dari Pemerintah, kita bisa mengukir prestasi terbaik di tingkat nasional,” kata Asep Odang Kurnia mengakhiri.
SMAN 1 TAMBUSAI KING OF DEBAT ROKAN HULU
SMAN 1 Tambusai berhasil menyapu bersih seluruh kompetisi debat tingkat Sma Se Kabupaten rokan Hulu selama periode 2021. Pada kompetisi di upp dan stkip rokania tim debat SMAN 1 Tambusai berhasil menjadi juara 1 dan juara 3 serta merebut predikat the Best speaker pada dua kompetisi tersebut.
Untuk di Kabupaten Rokan Hulu, tim debat SMAN 1 Tambusai selalu menjadi juara unggulan mengalahkan seluruh kompetitornya. sebutan raja debat di rokan Hulu untuk SMAN 1 Tambusai memang pantas di sematkan. Pasalnya, SMAN 1 Tambusai selalu menjadi juara dalam berbagai kompetisi debat di Kabupaten Rokan Hulu.
Kepala sekolah SMAN 1 Tambusai menjelaskan resep dari kesuksesan Tim debat SMAN 1 Tambusai tersebut. “tidak banyak yang kami lakukan, hanya melakukan latihan dengan konsisten” ujar Bakhtar Yamin, MM.Pd. Kepala sekolah juga menyampaikan bahwa pihak sekolah akan memfasilitasi minat dan bakat seluruh siswa nya, tidak hanya dalam debat saja. Guna melahirkan lulusan yang produktif dan kompetitif.
TIM debat SMAN 1 Tambusai memang dikenal aktif mengikuti berbagai kompetisi tingkat daerah dan provinsi. Untuk tahun 2022 ini dikatakan oleh pembina tim debat SMAN 1 Tambusai menargetkan bisa menjuarai lomba debat tingkat provinsi dan bahkan LDBI Dan lomba debat bahasa inggris tingkat nasional. Harapan dan target itu semakin nyata melihat dukungan dari pihak sekolah dan konsistensi serta progres dari tim debat SMAN 1 Tambusai. “kita yakin bisa bertarung dan menjadi juara pada kompetisi debat tingkat provinsi dan nasional di tahun 2022 ini” pungkas Asep Odang Kurnia, M. MPd selaku pembina.
Syaukani Addari, S. Kom sebagai ketua alumni SMAN 1 Tambusai juga menyampaikan siap berperan dan mengerahkan alumni untuk kontribusi dalam pencapaian prestasi tersebut. Ia juga mengaku bangga dan dengan Tim debat SMAN 1 Tambusai. “kita sangat bangga dan optimis bisa berprestasi lebih tinggi lagi. Kita punya banyak alumni yang berkompeten untuk membantu mendidik Tim debat ini sampai juara nasional nantinya” tutup ketua alumni SMAN 1 Tambusai yang kerap disapa Aad Tambusai tersebut.
Salah seorang dewan juri pada kompetisi debat di stkip rokania Amirhan, SH yang juga selaku ketua forum debat Riau dan duta bahasa Riau 2018 mengatakan kualitas tim debat SMAN 1 Tambusai tim A sudah mampu bertanding ditingkat nasional. “kualitas tim A SMAN 1 Tambusai itu mantap, sudah mampu untuk bertanding di tingkat nasional. Tetap tingkatkan latihan” tutup dewan juri tersebut sembari memberi semangat.
Pendidikan Sebagai Investasi Jangka Panjang
Profesor Toshiko Kinosita mengemukakan bahwa sumber daya manusia Indonesia masih sangat lemah untuk mendukung perkembangan industri dan ekonomi. Penyebabnya karena pemerintah selama ini tidak pernah menempatkan pendidikan sebagai prioritas terpenting. Tidak ditempatkannya pendidikan sebagai prioritas terpenting karena masyarakat Indonesia, mulai dari yang awam hingga politisi dan pejabat pemerintah, hanya berorientasi mengejar uang untuk memperkaya diri sendiri dan tidak pernah berfikir panjang (Kompas, 24 Mei 2002).

Pendapat Guru Besar Universitas Waseda Jepang tersebut sangat menarik untuk dikaji mengingat saat ini pemerintah Indonesia mulai melirik pendidikan sebagai investasi jangka panjang, setelah selama ini pendidikan terabaikan. Salah satu indikatornya adalah telah disetujuinya oleh MPR untuk memprioritaskan anggaran pendidikan minimal 20 % dari APBN atau APBD. Langkah ini merupakan awal kesadaran pentingnya pendidikan sebagai investasi jangka pangjang. Sedikitnya terdapat tiga alasan untuk memprioritaskan pendidikan sebagai investasi jangka panjang.
Pertama, pendidikan adalah alat untuk perkembangan ekonomi dan bukan sekedar pertumbuhan ekonomi. Pada praksis manajemen pendidikan modern, salah satu dari lima fungsi pendidikan adalah fungsi teknis-ekonomis baik pada tataran individual hingga tataran global. Fungsi teknis-ekonomis merujuk pada kontribusi pendidikan untuk perkembangan ekonomi. Misalnya pendidikan dapat membantu siswa untuk mendapatkan pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk hidup dan berkompetisi dalam ekonomi yang kompetitif.
Secara umum terbukti bahwa semakin berpendidikan seseorang maka tingkat pendapatannya semakin baik. Hal ini dimungkinkan karena orang yang berpendidikan lebih produktif bila dibandingkan dengan yang tidak berpendidikan. Produktivitas seseorang tersebut dikarenakan dimilikinya keterampilan teknis yang diperoleh dari pendidikan. Oleh karena itu salah satu tujuan yang harus dicapai oleh pendidikan adalah mengembangkan keterampilan hidup. Inilah sebenarnya arah kurikulum berbasis kompetensi, pendidikan life skill dan broad based education yang dikembangkan di Indonesia akhir-akhir ini. Di Amerika Serikat (1992) seseorang yang berpendidikan doktor penghasilan rata-rata per tahun sebesar 55 juta dollar, master 40 juta dollar, dan sarjana 33 juta dollar. Sementara itu lulusan pendidikan lanjutan hanya berpanghasilan rata-rata 19 juta dollar per tahun. Pada tahun yang sama struktur ini juga terjadi di Indonesia. Misalnya rata-rata, antara pedesaan dan perkotaan, pendapatan per tahun lulusan universitas 3,5 juta rupiah, akademi 3 juta rupiah, SLTA 1,9 juta rupiah, dan SD hanya 1,1 juta rupiah.
Para penganut teori human capital berpendapat bahwa pendidikan adalah sebagai investasi sumber daya manusia yang memberi manfaat moneter ataupun non-moneter. Manfaat non-meneter dari pendidikan adalah diperolehnya kondisi kerja yang lebih baik, kepuasan kerja, efisiensi konsumsi, kepuasan menikmati masa pensiun dan manfaat hidup yang lebih lama karena peningkatan gizi dan kesehatan. Manfaat moneter adalah manfaat ekonomis yaitu berupa tambahan pendapatan seseorang yang telah menyelesaikan tingkat pendidikan tertentu dibandingkan dengan pendapatan lulusan pendidikan dibawahnya. (Walter W. McMahon dan Terry G. Geske, Financing Education: Overcoming Inefficiency and Inequity, USA: University of Illionis, 1982, h.121).
Sumber daya manusia yang berpendidikan akan menjadi modal utama pembangunan nasional, terutama untuk perkembangan ekonomi. Semakin banyak orang yang berpendidikan maka semakin mudah bagi suatu negara untuk membangun bangsanya. Hal ini dikarenakan telah dikuasainya keterampilan, ilmu pengetahuan dan teknologi oleh sumber daya manusianya sehingga pemerintah lebih mudah dalam menggerakkan pembangunan nasional.
Nilai
Balik Pendidikan
Kedua, investasi pendidikan memberikan nilai balik (rate of return) yang lebih tinggi dari pada investasi fisik di bidang lain. Nilai balik pendidikan adalah perbandingan antara total biaya yang dikeluarkan untuk membiayai pendidikan dengan total pendapatan yang akan diperoleh setelah seseorang lulus dan memasuki dunia kerja. Di negara-negara sedang berkembang umumnya menunjukkan nilai balik terhadap investasi pendidikan relatif lebih tinggi dari pada investasi modal fisik yaitu 20 % dibanding 15 %. Sementara itu di negara-negara maju nilai balik investasi pendidikan lebih rendah dibanding investasi modal fisik yaitu 9 % dibanding 13 %. Keadaan ini dapat dijelaskan bahwa dengan jumlah tenaga kerja terdidik yang terampil dan ahli di negara berkembang relatif lebih terbatas jumlahnya dibandingkan dengan kebutuhan sehingga tingkat upah lebih tinggi dan akan menyebabkan nilai balik terhadap pendidikan juga tinggi (Ace Suryadi, Pendidikan, Investasi SDM dan Pembangunan: Isu, Teori dan Aplikasi. Balai Pustaka: Jakarta, 1999, h.247).
Pilihan investasi pendidikan juga harus mempertimbangkan tingkatan pendidikan. Di Asia nilai balik sosial pendidikan dasar rata-rata sebesar 27 %, pendidikan menengah 15 %, dan pendidikan tinggi 13 %. Dengan demikian dapat dikemukakan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka manfaat sosialnya semakin kecil. Jelas sekali bahwa pendidikan dasar memberikan manfaat sosial yang paling besar diantara tingkat pendidikan lainnya. Melihat kenyataan ini maka struktur alokasi pembiayaan pendidikan harus direformasi. Pada tahun 1995/1996 misalnya, alokasi biaya pendidikan dari pemerintah Indonesia untuk Sekolah Dasar Negeri per siswa paling kecil yaitu rata-rata hanya sekirat 18.000 rupiah per bulan, sementara itu biaya pendidikan per siswa di Perguruan Tinggi Negeri mendapat alokasi sebesar 66.000 rupiah per bulan. Dirjen Dikti, Satrio Sumantri Brojonegoro suatu ketika mengemukakan bahwa alokasi dana untuk pendidikan tinggi negeri 25 kali lipat dari pendidikan dasar. Hal ini menunjukkan bahwa biaya pendidikan yang lebih banyak dialokasikan pada pendidikan tinggi justru terjadi inefisiensi karena hanya menguntungkan individu dan kurang memberikan manfaat kepada masyarakat.
Reformasi alokasi biaya pendidikan ini penting dilakukan mengingat beberapa kajian yang menunjukkan bahwa mayoritas yang menikmati pendidikan di PTN adalah berasal dari masyarakat mampu. Maka model pembiayaan pendidikan selain didasarkan pada jenjang pendidikan (dasar vs tinggi) juga didasarkan pada kekuatan ekonomi siswa (miskin vs kaya). Artinya siswa di PTN yang berasal dari keluarga kaya harus dikenakan biaya pendidikan yang lebih mahal dari pada yang berasal dari keluarga miskin. Model yang ditawarkan ini sesuai dengan kritetia equity dalam pembiayaan pendidikan seperti yang digariskan Unesco.
Itulah sebabnya Profesor Kinosita menyarankan bahwa yang diperlukan di Indonesia adalah pendidikan dasar dan bukan pendidikan yang canggih. Proses pendidikan pada pendidikan dasar setidaknnya bertumpu pada empat pilar yaitu learning to know, learning to do, leraning to be dan learning live together yang dapat dicapai melalui delapan kompetensi dasar yaitu membaca, menulis, mendengar, menutur, menghitung, meneliti, menghafal dan menghayal. Anggaran pendidikan nasional seharusnya diprioritaskan untuk mengentaskan pendidikan dasar 9 tahun dan bila perlu diperluas menjadi 12 tahun. Selain itu pendidikan dasar seharusnya “benar-benar” dibebaskan dari segala beban biaya. Dikatakan “benar-benar” karena selama ini wajib belajar 9 tahun yang dicanangkan pemerintah tidaklah gratis. Apabila semua anak usia pendidikan dasar sudah terlayani mendapatkan pendidikan tanpa dipungut biaya, barulah anggaran pendidikan dialokasikan untuk pendidikan tingkat selanjutnya.
Fungsi
Non Ekonomi
Ketiga, investasi dalam bidang pendidikan memiliki banyak fungsi selain fungsi teknis-ekonomis yaitu fungsi sosial-kemanusiaan, fungsi politis, fungsi budaya, dan fungsi kependidikan. Fungsi sosial-kemanusiaan merujuk pada kontribusi pendidikan terhadap perkembangan manusia dan hubungan sosial pada berbagai tingkat sosial yang berbeda. Misalnya pada tingkat individual pendidikan membantu siswa untuk mengembangkan dirinya secara psikologis, sosial, fisik dan membantu siswa mengembangkan potensinya semaksimal mungkin (Yin Cheong Cheng, School Effectiveness and School-Based Management: A Mechanism for Development, Washington D.C: The Palmer Press, 1996, h.7).
Fungsi politis merujuk pada sumbangan pendidikan terhadap perkembangan politik pada tingkatan sosial yang berbeda. Misalnya pada tingkat individual, pendidikan membantu siswa untuk mengembangkan sikap dan keterampilan kewarganegaraan yang positif untuk melatih warganegara yang benar dan bertanggung jawab. Orang yang berpendidikan diharapkan lebih mengerti hak dan kewajibannya sehingga wawasan dan perilakunya semakin demoktratis. Selain itu orang yang berpendidikan diharapkan memiliki kesadaran dan tanggung jawab terhadap bangsa dan negara lebih baik dibandingkan dengan yang kurang berpendidikan.
Fungsi budaya merujuk pada sumbangan pendidikan pada peralihan dan perkembangan budaya pada tingkatan sosial yang berbeda. Pada tingkat individual, pendidikan membantu siswa untuk mengembangkan kreativitasnya, kesadaran estetis serta untuk bersosialisasi dengan norma-norma, nilai-nilai dan keyakinan sosial yang baik. Orang yang berpendidikan diharapkan lebih mampu menghargai atau menghormati perbedaan dan pluralitas budaya sehingga memiliki sikap yang lebih terbuka terhadap keanekaragaman budaya. Dengan demikian semakin banyak orang yang berpendidikan diharapkan akan lebih mudah terjadinya akulturasi budaya yang selanjutnya akan terjadi integrasi budaya nasional atau regional.
Fungsi kependidikan merujuk pada sumbangan pendidikan terhadap perkembangan dan pemeliharaan pendidikan pada tingkat sosial yang berbeda. Pada tingkat individual pendidikan membantu siswa belajar cara belajar dan membantu guru cara mengajar. Orang yang berpendidikan diharapkan memiliki kesadaran untuk belajar sepanjang hayat (life long learning), selalu merasa ketinggalan informasi, ilmu pengetahuan serta teknologi sehingga terus terdorong untuk maju dan terus belajar.
Di kalangan masyarakat luas juga berlaku pendapat umum bahwa semakin berpendidikan maka makin baik status sosial seseorang dan penghormatan masyarakat terhadap orang yang berpendidikan lebih baik dari pada yang kurang berpendidikan. Orang yang berpendidikan diharapkan bisa menggunakan pemikiran-pemikirannya yang berorientasi pada kepentingan jangka panjang. Orang yang berpendidikan diharapkan tidak memiliki kecenderungan orientasi materi/uang apalagi untuk memperkaya diri sendiri.
Kesimpulan
Jelaslah bahwa investasi dalam bidang pendidikan tidak semata-mata untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi tetapi lebih luas lagi yaitu perkembangan ekonomi. Selama orde baru kita selalu bangga dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi, namun pertumbuhan ekonomi yang tinggi itu hancur lebur karena tidak didukung oleh adanya sumber daya manusia yang berpendidikan. Orde baru banyak melahirkan orang kaya yang tidak memiliki kejujuran dan keadilan, tetapi lebih banyak lagi melahirkan orang miskin. Akhirnya pertumbuhan ekonomi hanya dinikmati sebagian orang dan dengan tingkat ketergantungan yang amat besar.
Perkembangan ekonomi akan tercapai apabila sumber daya manusianya memiliki etika, moral, rasa tanggung jawab, rasa keadilan, jujur, serta menyadari hak dan kewajiban yang kesemuanya itu merupakan indikator hasil pendidikan yang baik. Inilah saatnya bagi negeri ini untuk merenungkan bagaimana merencanakan sebuah sistem pendidikan yang baik untuk mendukung perkembangan ekonomi. Selain itu pendidikan juga sebagai alat pemersatu bangsa yang saat ini sedang diancam perpecahan. Melalui fungsi-fungsi pendidikan di atas yaitu fungsi sosial-kemanusiaan, fungsi politis, fungsi budaya, dan fungsi kependidikan maka negeri ini dapat disatukan kembali. Dari paparan di atas tampak bahwa pendidikan adalah wahana yang amat penting dan strategis untuk perkembangan ekonomi dan integrasi bangsa. Singkatnya pendidikan adalah sebagai investasi jangka panjang yang harus menjadi pilihan utama.
Bila demikian, ke arah mana pendidikan negeri ini harus dibawa? Bagaimana merencanakan sebuah sistem pendidikan yang baik? Marilah kita renungkan bersama.
Nurkolis, Dosen Akademi Pariwisata Nusantara Jaya di Jakarta.
Saya Drs. Nurkolis, MM setuju jika bahan yang dikirim dapat dipasang dan digunakan di Homepage Pendidikan Network dan saya menjamin bahwa bahan ini hasil karya saya sendiri dan sah (tidak ada copyright).
Testimoni
Link Penting




























































